Kisah Kegagalan Veron Di Manchester United

Category: Berita Bola

veron - seputarduniabola.com

Seputar Dunia BolaJuan Sebastian Veron pernah menjadi salah satu pemain termahal yang dibeli oleh Sir Alex Ferguson selama bursa transfer. Namun pembelian yang pernah menjadi termahal se ranah Britania itu juga menjadi salah satu kegagalan Sir Alex Ferguson dalam bursa transfer. Nama Veron selalu ada dalam daftar transfer terburuk bagi Manchester United bahkan bagi Liga Premier Inggris. Akibatnya banyak yang lupa kalau Veron, sebelum kegagalan itu, adalah seorang pemain kelas dunia, terkenal di seantero Eropa. Veron adalah pemain yang diharapkan menjadi otak permainan Manchester united dalam meneruskan dominasi mereka di level domestic dan upaya untuk mencapai puncak final Liga Champions. Jadi apa yang membuatnya gagal di Manchester United?

Veron bergabung dengan Manchester United di tahun 2001, Manchester United saat kedatangannya adalah klub yang berhasil meneruskan dahaga mereka atas gelar juara. Manchester United menjadi tim pertama di era Premier League yang menjadi juara dalam tiga musim berturut-turut. Selain berhasil meraih treble sensasional 1999. Harga transfer Veron adalah yang termahal di Inggris kala itu, 28 juta pounds nilai transfernya dari Lazio. Kedatangan Veron ke Manchester United dianggap sebagai langkah bagus karena dia juga meraih treble domestic di Lazio pada tahun 2000. Veron adalah pemain kunci dalam permainan Lazio, dia mengatur permainan di area tengah tim yang dilatih oleh Sven Goran Eriksson. Pencapaian luar biasa Lazio saat itu membuat Sven Goran Eriksson ditunjuk melatih timnas Inggris.

Veron adalah pemain yang diberkahi dengan teknik tinggi. Dia bisa mencetak gold an juga mengarsiteki terjadinya gol tapi kekuatan utama Veron adalah kelebihannya dalam mengumpan. Di Lazio Veron adalah pengatur tempo dan pergerakan permainan. Saat menerima bola, dia selalu berpikir kearah mana permainan Lazio digerakkan, cara bermain yang menentukan kecepatan permainan Lazio, tim lawan kesulitan untuk mengatasi taktik ini. Veron tidak termasuk pemain yang memiliki kecepatan tinggi tapi dia adalah pekerja keras. Dia adalah playmaker murni, yang menginginkan semua serangan harus berawal darinya, dan bila sesuai rencana, hanya kebaikan yang akan diterima Lazio. Veron saat itu adalah nyawa dari tim yang dibelanya. Paket komplit yang absolute dari seorang gelandang tengah. Seputar Dunia Bola

Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, tak sulit menebak kalau Ferguson menginginkannya, walau dengan harga mahal. Sejak memenangi Liga Champions di tahun 1999, Manchester United telah menderita kekalahan berturut-turut di babak perempat final dari tim yang memiliki pemain yang setipe dengan Veron. Pada 2000 mereka kalah dari Real Madrid yang memiliki seorang Fernando Redondo yang sangat berbakat di jantung permainan timnya. Tentu saja, kepingan kesempurnaan Redondo dimata Ferguson adalah kemampuannya untuk mengarsiteki gol kemenangan. Bila semua orang memuji kehebatan Ronaldo, Ferguson selalu mengagumi Redondo. Musim selanjutnya, tahun 2001 Manchester United harus kalah dari Bayern Muencen yang memiliki Stefan Effenbrg sebagai dynamo permainan. Effenberg yang bermain ‘arogan’ dengan postur yang tegap membuat segalanya Nampak baik bagi Bayern Muenchen. Effenberg dan Redondon, pemain seperti mereka yang membuat Manchester United gagal melangkah jauh di Liga Champions.

Ferguson akhirnya menginginkan pemain seperti itu dan mengidentifikasi bahwa Veron adalah orang yang tepat untuk tugas tersebut. Agak aneh memang, mengingat Fergie sudah memiliki pemain seperti Paul Scholes di timnya. Kerja sama antara Scholes dan Roy Keane sedang dalam masa keemasannya dengan formasi 442 yang diapit oleh Beckham dan Giggs di masing-masing sayap. Jadi kenapa Ferguson membutuhkan Veron? Well, sebenarnya dia sama sekali tak butuh Veron. Ferguson tak pernah membutuhkan Veron, dia menginginkannya. Periode tersebut adalah Manchester United sedang menjadi tim yang sangat diunggulkan di Liga Champions, tapi gagal dalam beberapa tahun setelah treble 1999. Satu hal yang perlu diingat pada saat itu, Scholes bukanlah pemain seperti yang dia tunjukkan di Liga Champions 2011, Scholes pada saat itu adalah pemain yang sedang berkembang dalam pemahaman taktik. Dia bukanlah seorang playmaker seperti yang ditunjukkan pada pertengahan dekade 200an. Scholes di awal 2000an adalah seorang gelandang serang bernaluri serang tinggi. Sedangkan Veron lebih terlihat sebagai kandidat yang sempurna bagi Roy Keane di lini tengah Manchester United. Pasangan Roy Keane dan Veron akan sempurna untuk kampanye Liga Champions Ferguson selanjutnya. Kedatangan Veron juga akan membuat Ferguson memiliki fleksibilitas dalam taktik, Ferguson dapat memainkan ketiganya untuk mendominasi penguasaan bola.

Tapi kenapa Veron tak pernah menjadi nyawa bagi Manchester United?

Salah satu fakta yang dilupakan oleh banyak orang, Veron adalah pemain yang tampil sangat baik dalam kampanye Liga Champions di tahun 2002/2003. Seperti yang sudah kita lihat, di liga, Veron adalah pilihan terakhir setelah Keane dan Scholes. Dia tak menjadi nyawa dari serangan United di lini tengah permainan seperti saat bermain untuk Lazio karena dia juga sulit beradaptasi. Veron tak pernah menjadi sekadar pemain pelengkap di Italia dan dia tak pernah menunjukkan performa seperti yang ditunjukkan olehnya di Lazio.

Ada pendapat yang mengatakan kalau kegagalan Veron adalah kegagalan dia beradaptasi dengan kecepatan Liga Premier Inggris, mungkin benar adanya, tapi jawaban yang lebih tepat karena bukan dirinya yang menjadi anchor man lini tengah United. Idealnya adalah Veron bermain sebagai metronome dengan didampingi Scholes dan Keane disampingnya. Namun sayang, situasi ideal itu takkan mungkin terjadi. Keane saat itu dalam puncak permainan di dalam dan di luar lapangan. Mustahil bagi seorang Veron sekalipun untuk menggeser Keane sebagai anchor permainan United.

Akhirnya Veron tak pernah menjadi pemain yang sukses bagi United. Dia yang bergabung karena diproyeksi menjadi nyawa permainan tim dalam kampanye Eropa, tak pernah mencapai puncak karena keberadaan Roy Keane disampingnya. Kegagalannya di Chelsea juga oleh sebab yang sama. Setelah itu dia ke Argentina dan menjadi bintang lapangan Independiente karena ditempatkan di posisi aslinya. Seputar Dunia Bola